Adat Istiadat Jakarta dalam Upacara Pernikahan

www.pexels.com

Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya, baik dari segi sumber daya alam maupun keragaman masyarakatnya. Negara yang terdiri dari beratus-ratus pulau ini dihuni oleh masyarakat yang sangat majemuk. Setiap daerah di Indonesia dihuni oleh suku bangsa yang berbeda.

Setiap suku bangsa pastilah memiliki produk kebudayaan masing-masing. Produk kebudayaan adalah apa yang diwariskan generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Produk kebudayaan tersebut ada yang tampak secara fisik seperti makanan tradisional, pakaian adat, alat musik, dan lain-lain. Ada pula yang tidak memiliki bentuk fisik seperti norma, kepercayaan, hingga adat istiadat.

Betawi adalah salah satu suku bangsa asli Indonesia yang cukup besar. Suku ini mendiami wilayah Jakarta yang kini sekaligus berfungsi sebagai ibu kota. Sebagaimana suku bangsa lain yang ada di Indonesia, Betawi juga memliki produk kebudayaannya sendiri.

Produk kebudayaan asli masyarakat betawi masih cukup mudah ditemukan hingga hari ini. Pemerintah DKI Jakarta tentu berusaha menjaganya agar tetap lestari dengan memamerkannya di berbagai kesempatan. Begitu pula halnya dengan masyarakat betawi itu sendiri, tentunya mereka tak rela jika warisan nenek moyang hilang begitu saja ditelan zaman yang kian modern.

Tidak bisa dipungkiri bahwa adat istiadat yang dimiliki masyarakat Betawi memang sudah memulai memudar keberadaannya. Namun masih ada beberapa momen yang tak lengkap rasanya jika tak dilakukan dengan adat istiadat Jakarta.

Salah satu momen yang masih kental dengan berbagai hal berbau adat adalah pernikahan. Bahkan di era modern seperti sekarang sekalpun, pernikahan dengan nuansa tradisional masih tetap diminati. Selain sebagai salah satu upaya untuk menjaga adat istiadat, melangsungkan pernikahan dengan cara tradisional juga kerap menjadi hiburan tersendiri bagi para tamu undangan yang hadir.

Adat istiadat yang dimiliki berbagai suku bangsa di Indonesia, termasuk Betawi, memang cenderung kompleks. Kompleksitas itu melahirkan rangkaian upacara adat pernikahan yang apik. Menyaksikan pernikahan dengan upacara adat tradisional hampir selalu berarti menyaksikan pertunjukan budaya yang menyenangkan. Tak hanya itu, di dalam upacara pernikahan tradisional sejatinya selalu sarat akan makna dan nilai-nilai kehidupan yang luhur.

www.pexels.com

Pernikahan Adat khas Betawi

Semua calon pengantin pasti melakukan upaya yang maksimal ketika melakukan persiapan pernikahan. Hal tersebut tentu wajar adanya mengingat pernikahan adalah momen spesial yang disiapkan untuk berlangsung sekali seumur hidup. Bagi sebagian orang, melangsungkan upacara pernikahan dengan adat kebudayaan dari tempat asalnya bisa menjadi kebanggaan sendiri.

Masyarakat Indonesia tentu sudah tak asing dengan berbagai pertunjuka upacara adat pernikahan khas Sunda dan Jawa. keduanya memang memiliki rangkaian upacara adat yang cukup banyak dan menarik untuk disaksikan. Ternyata, pernikahan adat Betawi juga tidak kalah apik.

Adat istiadatBetawi yang banyak terpengaruh kebudayaan Melayu, China, hingga Belanda melahirkan sebuah prosesi pernikahan yang kaya warna. Mulai dari prosesi upacara pernikahan, pakaian pengantin, hingga makanan yang disuguhkan, semuanya menjadi cerminan dari kehidupan masyarakat Betawi.

Bagi Anda yang penasaran, berikut adalah upacara pernikahan khas adat istiada Jakarta:

  1. Ngelamar

Proses paling pertama dari pernikahan dengan adat istiadat Jakarta adalah ngelamar. Hal ini menjadi langkah paling awal bagi calon pengantin pria untuk menunjukkan keseriusannya. Ketika melakukan prosesi ngelamar, calon pengantin pria aka mendatangi kediaman keluarga pihak wanita bersama beberapa orang anggota keluarganya.

Calon pengantin pria tentunya tak boleh datang dengan tangan kosong. Dalam adat Betawi, beberapa barang yang wajib dibawa oleh pihak pria ketika hendak ngelamar adalah sirih embun,2 sisir pisang raja, roti tawar yang dihias di atas nampan dan kertas warna-warni, serta uang sembah lamaran dan beberapa hadiah lain.

Acara ngelamar menjadi prosesi yang penting karena di dalamnya akan dibahas mengenai tanggal bertunangan dan tanggal penting lainnya terkait persiapan pernikahan. Pembicaraan tersebut akan berlangsung dengan santai di antara kedua belah pihak keluarga. Pada saat lamaran juga akan ditentukan besaran uang mahar dan mas kawin lainnya. Jika semua hal penting sudah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, maka proses jelang pernikahan siap untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

www.pexels.com
  1. Bawa Tande Putus

Bawa tande putus adalah istilah yang diciptakan orang Betawi untuk menyebut “tunangan”. Prosesi ini adalah prosesi yang dilakukan untuk menindaklanjuti keseriusan calon pengantin pria yang sudah disampaika ketika prosesi ngelamar. pada proses bawa tande putus ini lagi-lagi calon pengantin pria beserta keluarganya diwajibkan untuk mendatangin rumah keluarga calon pengantin wanita.

Jika sudah melalu tahapan bawa tande putus artinya calon pengantin pria dan wanita sudah sama-sama terikat satu sama lain. Seperti lazimnya acara pertunangan di tempat lain, kedua calon pengantin Betawi ini juga biasa menandai pertunangannya dengan bertukar cincin. Setelah prosesi selesai barulah kedua belah pihak bisa fokus mempersiapkan hari untuk dilangsungkannya akad nikah.

  1. Piare Calon Nona Penganten

Prosesi yang satu ini mirip dengan prosesi pingit pada pernikahan adat Jawa. bedanya, pada adat dan istiadat Jakarta prosesi yang satu ini lebih difokuskan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan calon mempelai wanita. Calon mempelai wanita yang disebut dengan nona penganten akan dirawat dan dijaga selama 1 bulan oleh orang yang disebut dengan istilah tukang piare.

Selama masa dipiare ini nona penganten diwajibkan untuk melakukan diet. Diet dilakukan denga cara tradisional, yakni meminum jamo godog dan airakar secang. Namun seiring perkembangan zaman biasanya sekarang ini masa piare calon nona penganten tidak berlangsung selama 1 bulan. 2 hingga 3 hari dianggap sudah cukup untuk menyelesaikan prosesi yang satu ini.

www.pexels.com
  1. Siraman dan Ditangas

Proses siraman dilakukan satu hari menjelang hari akad nikah. Proses ini umumnya dilangsungkan di rumah calon pengantin wanita dan diawali dengan pengajian. Proses siraman adalah proses di mana calon pengantin wanita akan dimandikan secara simbolis oleh kedua orang tuanya. Air yang digunakan adalah air kembang. Proses ini adalah simbol dari ritual bersih diri calon pengantin sebelum melangsungkan pernikahan.

Usai siraman, calon pengantin wanita akan langsung menjalankan ritual ditangas. Ritual tersebut dilakukan untuk membersihkan dan mengharumkan tubuh calon mempelai wanita. Dengan demikian diharapkan calon pengantin wanita bisa tampil maksimal pada hari pernikahannya.

  1. Ngerik dan Potong Centung

Ritual ini dilakukan pada malam hari jelang hari akad nikah. Tempat pelaksanaannya adalah di kamar calon pengantin wanita. Prosesi ngerik dilakukan untuk membersihkan bulu-bulu halus di sekitar wajan dan leher calon pengantin. Alat yang dibutuhkan untuk melakukan ritual ini adalah kain putih berukuran 2 meter, alat cukur, dupa, dan air kembang.

Ritual ngerik akan dilanjutkan dengan ritual potong centung. Ritual potong centung menjadi simbol dari pengharapan agar usai pernikahan calon pengantin senantiasa mendapat limpahan rezeki dan berkah dari tuhan.

  1. Malam Pacar

Maksud dari malam pacar adalah malam di mana calon pengantin wanita akan dipasangkan pacar (cat kuku) di seluruh kuku tangannya. Malam ini menjadi malam yang cukup semarak karena akan dihadiri oleh sahabat-sahabat dari calon pengantin wanita. Sementara yang nantinya memandu pemasangan pacar adalah tukang piare.

 

Pada malam pacar calon pengantin wanita diwajibkan menggunakan pakaian khas adat istiadat Jakarta, yakni kebaya encim. Nantinya orang tua dan para sahabat akan ikut memasangkan pacar sebagai tanda dukungan menjelang hari pernikahan. Alat yang dibutuhkan untuk ritual malam pacar adalah daun pacar, bakul beras, bumbu dapur, garam, kapur sirih, pisang raja, dan lain-lain.

  1. Ngerudat

Ketika tiba hari H pernikahan, prosesi pertama yang dilakukan adalah ngerudat. Ngerudat ialah proses iring-iringan calon pengantin pria menuju tempat akad nikah. Pada saat prosesi ngerudat iringan calon pengantin pria membawa seserahan berupa berbagai barang yang dimasukkan ke dalam keranjang dan dihias berbagai bentuk.

Setelah sampai tempat akad nikah dan semuanya sudah siap, maka akad nikah bisa langsung dijalankan. Sementara akad nikah dijalankan sesuai ketentuan agama dari kedua mempelai. Jika menyesuaikan dengan adat Betawi, maka saat pelaksanaan akad nikah pengantin wanita diwajibkan menunggu di kamar atau di ruang lain.

www.pexels.com
  1. Acara Kebesaran

Setelah ngerudat dan akad nikah selesai, maka kini kedua pengantin telah resmi menjadi sepasang suami istri. Namun bukan berarti prosesi upacara pernikahan adat Betawi telah usai dilaksanakan. Pengantin pria harus melalui acara kebesaran berupa buka palang pintu dan dipuade untuk bisa menemui pengantin wanitanya.

Buka palang pintu mirip drama di mana masing-masing pihak keluarga mempelai wanita dan mempelai pria sama-sama mempunya utusan. Nantinya utusan dari masing-masing keluarga tersebut akan berbalas pantun. Usai berbalas pantun keduanya juga akan menunjukkan kebolehan silat masing-masing.

Usai prosesi palang pintu, acara dipuade pun dimulai. Prosesi dipuade adalah prosesi di mana akhirnya kedua pengantin bisa duduk bersama di pelaminan. Tetapi sebelumnya kedua pengantin harus sungkem kepada kedua pasang orang tua. Selanjutnya pengantin pria akan menyuapi nasi kuning ke pengantin wanita.

Nasi kuning yang disuapkan ke pengantin wanita diambil dari nasi tumpeng Jakarta. Nasi tumpeng Jakarta memang menjadi makanan yang wajib ada di pesta pernikahan khas Betawi. Nasi tumpeng adalah nasi kuning yang dibentuk kerucut dan dilengkapi berbagai lauk. Nasi ini menjadi simbol rasa syukur dalam berbagai acara masyarakat Betawi.

Setelah semua prosesi adat usai, kini keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri yang direstui kedua belah keluarga. Menjalankan pernikahan dengan adat Betawi akan menjadi pengalaman yang sangat membekas. Diharapkan nilai-nilai moral dan nilai kehidupan yang didapat selama prosesi pernikahan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari agar bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Mempersiapkan upacara pernikahan adat Betawi atau pernikahan tradisional lainnya memang cukup rumit. Jika merasa kesulitan, Anda bisa mencoba menggunakan jasa wedding organizer. Hanya saja pastikan Anda memilih wedding organizer yang sudah berpengalaman. Anda juga sebaiknya tetap mengontrol persiapan agar tidak terjadi hal-hal yang kurang berkenan.

Diskusikan dengan wedding organizer yang Anda pilih mengenai konsep pernikahan tradisional yang Anda inginkan. Jika memungkinkan, mintalah juga saran dari orang tua yang memang memahami mengenai tatananan adat istiadat tradisional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*